Fitri's Site, monggo pinarak

rachma's posts with tag: nulis

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag nulis
Posted by rachma on Jun 19, '08 12:18 AM for everyone

Selasa lalu, selepas pulang kantor berdua dengan Mbak Vivi kami melenggang ke Plaza Ambarrukmo. Ini adalah acara nonton film yang sempat tertunda dua kali. Setelah telpon ibu masing-masing, kami segera bergegas. Boleh dibilang, saya dan Vivi sama-sama dalam pengawasan orang tua. Sebuah perlakuan wajar bagi anak perempuan yang belum mentas.

 

Berdasarkan cerita dari beberapa kawan, kami terprovokasi untuk menonton suguhan film berjudul ’ps: i love you’. Selain karena ada Hillary Swank, saya lebih dulu terpikat dengan genre dramanya. Maklum, inilah memang salah satu sisi melankolis saya.

 

Film ini kaya dengan visual cantik New York dan Irlandia. Kota New York memikat secara fotografis karena apartemen bertingkat dengan batu bata bercat cokelat. Yang jelas, lorong-lorong dan lanscape kotanya seru untuk lokasi prewed dengan konsep kehangatan. Ya, sehangat berpuluh-puluh pasangan di bangku bioskop kemarin dan ucapan ps: i love you dari Gerry buat Holly.

 

pss: ini hanya catatan nggak penting hari ini, tp ini mungkin bisa jadi penting sepuluh tahun lagi


Posted by rachma on Jun 13, '08 1:07 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Sebenernya nama asli nenek ini adalah Mijem. Sedangkan nama tua beliau, mengikuti nama tua suaminya yang meninggal tak lama setelah gempa adalah Suparto. Namun, jangan kaget bila tak banyak yang mengenal 2 nama itu di dukuh Nawungan II Selopamioro. Hanya segelintir orang yang mengenal nama Mijem atau Suparto. Tapi coba tanya nama Mbah Mulud, pasti semua orang akan segera mengangguk dan mengantarkan kita ke sebuah rumah berdinding batu bata setengah telanjang, Maklum, rumah beliau ini merupakan bangunan baru dengan bantuan sebesar 15 juta dari dana rehab rekons pemerintah setelah gempa hanya menyisakah sebuah sumur di belakang rumah buatnya. Didepan sumur itu pula kemarin sore kami berbicang.

Lantas kenapa iya disebut Mbah Mulud ? Pertanyaan ini spontan muncul saat saya menghitung ada 3 nama buat simbah yang hobi nginang ini. Ternyata sebutan itu muncul setelah adalah anak tertuanya lahir dan bernama Mulud. "Mulud niku jeneng anak mbarep kulo, ndilalah lahir pas sasi Mulud," ceritanya.

Seperti kebanyakan orang tua yang saya temui, Mbah Mulud juga tidak tahu berapa usianya. ”Ngapunten, lha nek miturut mbak e kinten-kinten pinten ?” ucapnya sambil meminta saya menaksir usianya. Taksiran saya beliau lebih kurang berusia 70an, karena sepertinya beliau seusia dengan simbah putri saya yang sedo 2 tahun lalu. Bedanya, simbah putri saya lebih dulu berpulang karena luka dalam di bagian kepala karena benturan saat mendekap tiang didapur saat lindu datang. Benturan itu menyebabkan pembekuan darah di otak kecil yang baru kami ketahui satu bulan setelah gempa.

Selain usianya yang hampir sama, Mbah Mulud dan simbah putri saya sama-sama fasih mengucapkan ”kokoh bakoh” saat gempa menghujam Yogya. Ya, saya masih ingat simbah putri saya keluar rumah sambil berteriak ”kokoh bakoh” berulang-ulang. Ucapan yang berarti doa agar bumi tetap kokoh dan kuat ini selalu dilafalkan menemani ucapan Allahu Akbar. ”Kulo mlajar kaliyan bengok-bengok kokoh bakoh-kokoh bakoh,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Posted by rachma on Jun 4, '08 4:12 AM for everyone

2 Bulan yang lalu, seorang kawan menunjukkan pada saya sebuah buku mungil yang konon sedang jadi buah bibir. Mata saya mendadak terbelalak dan merasa dejavu saat membaca beberapa artikel. Tulisan sahabat saya, Aria Dewangga untuk kanal kuliner www.trulyjogja.com tiba-tiba bermigrasi tanpa permisi. Saya hapal betul tulisannya, pemilihan kata-kata dan rangkaian kalimatnya karena saya ikut dalam peliputan tersebut. Ungkapan yang dipilih berdasarkan pengalaman saat kami antri makanan, ngobrol dengan sang penjual dan saat lidah mencicip rasa. Dua bola mata semakin keluar dibarengi omelan yang tak karuan saat lembar demi lembar itu terjelajah. Podo Plek, dan terutama untuk link-link berikut.

Rayuan Maut Sate Kambing Pak Nano : How Hot Are You?
Anti Fast Food ala Gudeg Wirobrajan
Senjata Rahasia Angkringan Pak Parjo


Omelan saya kembali membahana saat membaca biografi penulisnya. Tertulis bahwa para penulis telah bekerja sangat keras untuk buku ini. Sungguh, saya angkat topi buat penulisnya. Kerja keras dan keberanian terlampau besar untuk memindahkan tulisan kedalam buku yang saat ini sudah masuk cetakan ketiga.

Maaf, bila salah satu atau salah tiga dari penulisnya membaca tulisan saya yang penuh emosi ini. Pertanyaan saya cuma satu, bagaimana bila karya tulis anda dibajak orang tanpa permisi ?

Email dari kawan saya Ogi Pornawan (salah satu pemilik www.trulyjogja.com) kepada media-jogja@yahoogroups.com & www.jogjafoodfest.com

Teman-teman, saya pengen berbagi masalah plagiat buku.

Ada orang yang membuat buku dengan judul
100 warung makan enak di Jogja
Penulisnya: Wanda Djatmiko & M. Solahudin
berikut link nya:
100 warung makan enak di Jogja

Buku tersebut sudah naik cetak 3 kali, dan katanya menjadi best seller
di penerbit bersangkutan.

Secara tidak sengaja, saya menemukan hampir keseluruhan isi buku
tersebut mengambil dari website www.trulyjogja.com,
penulisnya hanya merangkum isi dari artikel-artikel di website tersebut.
Point-point dari tiap artikel jelas mengambil dari website tersebut,
dan beberapa kalimat malahan masih sama persis, bahkan beberapa judul
yang juga sama persis.

Kebetulan saya salah satu pemilik web tersebut, dan merasa sedih hasil
susah payah beberapa programmerku cuman di ambil begitu saja tanpa
satu patah kata ijinpun.
Dan bahkan, di cetakan ke tiga, website kami tidak disebutkan sama
sekali sebagai referensi (saya kurang tau di cetakan sebelumnya apakah
ada semacam daftar pustakanya atau tidak).

Dan saat saya hubungi penulisnya, penulisnya dengan enteng merasa
tidak bersalah, dan berlagak sangat-sangat sibuk, sehingga saya ajak
bertemu susah sekali.

Sebiasa inikah plagiatisme di negri ini?
mohon tanggapan dari temen-temen.

Posted by rachma on Apr 10, '08 5:18 AM for everyone

Masuk pelataran Magangan, suasana senyap. Mesin motor pun segera dimatikan. Terdengar samar lagu campursari saat kaki mulai melangkah masuk. Beradu dengan suara rantai motor Mas Tian, kakak sepupu saya  yang bergesek seperti kurang oli.

 

"Nyuwun sewu, dalem badhe pinanggih Pak Yudoraharjo," ucap saya seketika berjumpa dengan para abdi yang sedang jagongan di depan pintu belakang kraton. Orang yang saya cari ternyata ada diantara mereka. Sedikit manglingi karena sedang tidak memakai blangkon. Segera foto-foto itu pun berpindah tangan. Wajahnya tampak sumringah. "Saestu mbak, meniko kagem kulo?" tanyanya berulang-ulang sambil mendekap foto berbingkai itu.

 

Malam kemarin, Selasa Legi (08/04/08) adalah caos pertama para abdi di Magangan. Artinya adalah tugas jaga untuk kelompok pertama. Ada 10 kelompok berdasarkan hari pasaran. Pak Yudoraharjo adalah salah satu abdi yang caos setiap pasaran Legi. Selain sebagai abdi dalem, Pak Yudoraharjo yang bergelar Mas Wedana ini juga bekerja sebagai juru kunci Makam Karanglo.

 

Semula kami tidak akan berlama-lama. Tapi rencana tinggal rencana. Kami tak mampu menolak teh manis suguhan mereka. "Ampun keseso, monggo lho dipun unjuk," pinta mereka berbarengan sambil jempolnya menunjuk ke arah gelas diatas tikar. Dan obrolan pun bergulir kemudian.Gayeng dan sedikit njlimet karena dalam bahasa jawa krama inggil. Cerita tentang banyak hal seperti cerita tentang abdi dalem Polowijo dan Semutgatel. 

 

Selain Pak Yudoraharjo ada 4 abdi dalem lainnya. Kesemuanya memiliki nama depan Yudo. Mereka adalah pak Yudopradoto, Yudosaronto, Yudodinomo dan Yudosarono. Nama yang terakhir adalah milik seorang abdi dalem yang kemarin satu-satunya tidak memakai surjan. "Menawi kulo menika nglerek," ucapnya sambil bersalaman menjawab raut muka saya yang tampak binggung dengan kostumnya. Nglerek artinya adalah beliau datang satu malam lebih awal sebelum hari tugasnya berjaga. Nglerek kebanyakan dilakukan para abdi yang tempat tinggalnya jauh.

 

Saya sempat tercengang setelah tahu bahwa Pak Yudosarono ini berasal dari desa Kranggan Temanggung Jawa Tengah. Lebih tercengang lagi saat tahu bahwa beliau bersepeda pulang pergi setiap caos ke kraton. "75 kilo mbak, kirang langkung 12 jam dhateng margi," jelasnya kemudian. Artinya beliau menghabiskan setengah harinya waktu dijalan untuk menempuh perjalanan sepanjang 75 kilometer. "Sampun telas sarono 3 onthel mbak," candanya. Nama Yudosarono memang cocok buat si bapak. Beliau baru saja menjelaskan bahwa sejauh ini beliau sudah menghabiskan 3 buah sepeda.

 

Malam semakin larut dan diskusi semakin berkembang. Bersama mereka seperti sedang mengikuti pelajaran sejarah. Bedanya dengan disekolah, gurunya tak hanya satu. Semakin malam teh manisnya pun berkawan setelah datangnya Pak Mujiyono yang membawa sekardus bakpia. Beliau adalah abdi dalem yang masih magang di kraton. Belum dilantik sehingga belum berhak menyandang nama depan Yudo seperti kelima abdi yang lain. Selain Pak Mujiyono, ada seorang abdi magang lain yakni Pak Parjono. Ia masih tampak malu-malu untuk urun suara.

 

Saatnya saya pamitan. Sudah hampir 3 jam kami berbincang. Jagongan ditutup dengan foto bersama para abdi. "Mbake mboten dherek ?" tanya mereka meminta saya ikut berfoto. Permintaan itupun langsung saya tolak dengan halus, takut merusak keindahan foto. Dan sepuluh hari lagi saya akan kembali dengan foto keluarga dan sekeranjang pertanyaan. Magang sejarah. Jangan kapok ya Bapak-bapak..

 

PS: terimakasih sekali buat masopang yang bersedia mempostingkan tulisan. Semoga tabah ya..


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help