Fitri's Site, monggo pinarak

rachma's posts with tag: human interest

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag human interest
Posted by rachma on Jun 19, '08 6:38 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Di ladang tebu tepat di belakang Madukismo ini saya dan Mas Doni bertemu Pak Rohmat, seorang penebas tebu lepas. Bapak berkaus orange ini sudah hampir setengah hari disengat matahari. Beliau dengan sekitar 30 orang kawannya datang dari Tretep Temanggung. Sebagian kecil dari mereka berasal dari Magelang.

Bulan Mei sampai September adalah bulan rejekinya para penebas tebu. Pak Rohmat misalnya, beliau datang dari Temanggung ke Madukismo untuk memperoleh upah kotor sekitar Rp. 500.000/bulan. Upah tersebut masih akan dipotong ongkos Temanggung Yogya pulang pergi Rp. 60.000, biaya makan dan rokok selama mburuh. “Keno nggo sangu sekolah anak,” ucapnya sambil tersenyum.

Sebagai penebas tebu, ada tiga hal yang menjadi kawan dekat para penebas ini. Mereka adalah getah yang menghitamkan tangan, lugut atau duri halus pada batang tebu dan panas yang membuat keringat semakin deras mengucur. Tak ada sarung tangan dan hanya sedikit yang beralas kaki. Mayoritas nyeker. ”Malah angel mbak, rakulino,” jawab mereka berbarengan saat saya tanya tentang sandal.

Pekerjaan ini, meskipun berat tetap menjadi primadona. Hampir 90% warga Tretep Temanggung usia 15 s/d 35 tahun bekerja sebagai penebas tebu. ”Nek tuwo ra kuat awakke, kudu rosa soale gaweanne abot,” ujar mereka sambil terus bekerja. Setelah mas panen usai, mereka kembali mencari pekerjaan lain seperti menjadi buruh bangunan & petani tembakau. Tak sedikit pula yang menganggur.

Jangan bayangkan ada sepiring camilan atau segelas teh nasgitel buat mereka. Saat haus menyergap, tersedia satu jerigen air teh dan air putih untuk bersama. Setidaknya, minuman tersebut harus cukup untuk 30 penebas, seorang mandor dan supir truk. Mereka menyebutnya dengan istilah “Teh Es”, meski sebenarnya hanya teh semi pahit tanpa butiran es sama sekali. Maklum, cuaca yang panas membuat seteguk teh dari jerigen dan ceret ini seolah-olah dingin.

Selain itu ada juga rokok dengan bau khas yang menyengat. Rokok para penebas memang bukan rokok filter dengan iklan yang berbiaya tinggi itu. Tapi rokok lintingan dengan ramuan khusus cengkeh, klembak dan kemenyan.

Posted by rachma on Jun 13, '08 1:07 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Sebenernya nama asli nenek ini adalah Mijem. Sedangkan nama tua beliau, mengikuti nama tua suaminya yang meninggal tak lama setelah gempa adalah Suparto. Namun, jangan kaget bila tak banyak yang mengenal 2 nama itu di dukuh Nawungan II Selopamioro. Hanya segelintir orang yang mengenal nama Mijem atau Suparto. Tapi coba tanya nama Mbah Mulud, pasti semua orang akan segera mengangguk dan mengantarkan kita ke sebuah rumah berdinding batu bata setengah telanjang, Maklum, rumah beliau ini merupakan bangunan baru dengan bantuan sebesar 15 juta dari dana rehab rekons pemerintah setelah gempa hanya menyisakah sebuah sumur di belakang rumah buatnya. Didepan sumur itu pula kemarin sore kami berbicang.

Lantas kenapa iya disebut Mbah Mulud ? Pertanyaan ini spontan muncul saat saya menghitung ada 3 nama buat simbah yang hobi nginang ini. Ternyata sebutan itu muncul setelah adalah anak tertuanya lahir dan bernama Mulud. "Mulud niku jeneng anak mbarep kulo, ndilalah lahir pas sasi Mulud," ceritanya.

Seperti kebanyakan orang tua yang saya temui, Mbah Mulud juga tidak tahu berapa usianya. ”Ngapunten, lha nek miturut mbak e kinten-kinten pinten ?” ucapnya sambil meminta saya menaksir usianya. Taksiran saya beliau lebih kurang berusia 70an, karena sepertinya beliau seusia dengan simbah putri saya yang sedo 2 tahun lalu. Bedanya, simbah putri saya lebih dulu berpulang karena luka dalam di bagian kepala karena benturan saat mendekap tiang didapur saat lindu datang. Benturan itu menyebabkan pembekuan darah di otak kecil yang baru kami ketahui satu bulan setelah gempa.

Selain usianya yang hampir sama, Mbah Mulud dan simbah putri saya sama-sama fasih mengucapkan ”kokoh bakoh” saat gempa menghujam Yogya. Ya, saya masih ingat simbah putri saya keluar rumah sambil berteriak ”kokoh bakoh” berulang-ulang. Ucapan yang berarti doa agar bumi tetap kokoh dan kuat ini selalu dilafalkan menemani ucapan Allahu Akbar. ”Kulo mlajar kaliyan bengok-bengok kokoh bakoh-kokoh bakoh,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Posted by rachma on Jun 10, '08 3:26 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Seulas senyumnya sudah nampak dari kejauhan. Lebih tepatnya, saat ia datang dengan kotak kayu berisi tahu ceplus di ujung pintu loket museum kereta Ambarawa. Ya, dari kejauhan selain senyum dan suaranya yang empuk, tahu pong didalam kotak kaca dengan cabe rawit yang tertata rapi juga menjadi daya tarik tersendiri.

Sudah hampir 30 tahun Mbah Darmo berjualan tahu ceplus. Setiap pagi, anak ragilnya mengantar beliau ke Museum Kereta. Tempat ini memang menjadi salah satu primadona wisatawan dan surga bagi pedagang di kota Ambarawa selain Ngawen dan Rawapening.

"Anak kulo niko wau isuk muring-muring, kulo mboten angsal dodol malih," ujarnya sambil menepuk kotak tahu yang sedari tadi dipangku. "Ngisin-isini mungale," lanjutnya lagi sambil tersenyum. 6 orang anak mbah Darmo sudah mentas semuanya. Dari keenam anaknya, hanya satu orang yang masih tinggal bersamanya di desa Bawen, Ambarawa.

Mbah Darmo ternyata bandel. Beliau tetap tidak patuh pada permintaan anak-anaknya untuk tidak berjualan tahu keliling lagi. Mereka mengkhawatirkan kesehatan kakek dan kemungkinan penertiban oleh Satpol PP. Namun, bagi beliau yang terpenting adalah dengan pekerjaannya ini ia tidak merepotkan dan mengganggu orang lain. "Sing penting ora ngrusuhi liyan," ucap kakek 83 tahun ini mantap.

Selama tiga puluh tahun juga beliau setia menyunggi seratus buah tahu di dalam kotak jati seberat 10 kilo itu. "Sirah kulo ngantos mlenyok-mleyok," jelasnya sambil membuka topi yang bentuknya tak lagi proposional. Sebagian kulit kepala Mbah Darmo lecet. Meski sudah pasti perih, beliau tetap tersenyum.

Sesi obrolan yang paling menyenang dengan mbak Darmo saat beliau tiba-tiba memberikan sebuah kalimat wejangan pada saya dan mbak Ina sesaat sebelum kami berpamitan. "Pokoke mbak, nek nyambutgawe kudu jujur," ucapnya. Selain itu beliau juga meminta untuk mengingatkan beliau bila saja saya bertemu lagi dilain kesempatan karena penglihatannya tak lagi sempurna. "Mripat kulo pun blawur," terangnya beralasan.

Posted by rachma on Jun 5, '08 6:22 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Trampolin itu berderit saat Virgo dan Happy beraksi diatasnya. Halaman samping aula itu tak lagi sepi. Riuh dengan karena keduanya saling bercanda. “Happy itu yang paling pinter main trampoline lho Mbak, bukan Virgo”, ucap bocah lelaki berusia 11 tahun itu sambil menatap saya dengan mata berbinar.

“Dek, besok Mbak Fitri boleh main kesini lagi ?” tanya saya pada keduanya. ”Mau belajar main trampolin,” sambung saya kemudian. Mereka menggangguk. Tapi buru-buru Happy berkata bahwa ia akan pulang ke Purworejo. ”Besok aku mau pulang mbak, kesini lagi kalau kakiku sudah jadi,” paparnya sambil terus melompat. Gadis kelahiran tahun 1999 inipun menjanjikan oleh-oleh 10 buah durian sekembalinya dari Purworejo buat Virgo dan saya.

Happy dan Virgo terus melompat dan lompatannya semakin tinggi saja. Sekilas tidak ada yang berbeda dengan mereka dibanding anak-anak yang lain. Meski hanya dengan satu kaki, mereka tetap riang bermain trampolin sambil tertawa. Justru saya yang khawatir dan mengobral kata awas jatuh pada mereka. Ya, saya memang harus sering kesini dan belajar ilmu ikhlas dan semangat dari mereka berdua.



Posted by rachma on May 27, '08 7:15 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Majemu'an


Berpuluh-puluh tandan pisang ambon berjejer rapi dibalai dusun Karangkulon dan serambi masjid Sunan Cirebon Giriloyo petang kemarin. Aneka jajan pasar seperti lemper, arem-arem, tiwul ayu dan geplak ikut tersaji diatas piring-piring beling bermotif bunga. Sebotol minuman bersoda Sprite turut ambil bagian mengantikan sarsaparela yang kian jarang dipasaran.

Semua menanti doa dalam rangka tasyakuran dan bersih dusun di 3 padukuhan di desa Wukirsari Imogiri Bantul. Prosesi budaya ini oleh masyarakat Giriloyo, Cengkehan dan Karangkulon lebih sering disebut dengan Majemu'an, acara ucap syukur atas panen yang melimpah. Acara ini dimulai dengan doa di Masjid Karangkulon yang diikuti seluruh masyarakat dengan iringan shalawat. Syahdu ditengah remang malam.

Posted by rachma on May 26, '08 4:12 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Beberapa wanita tua dan paruh baya hilir mudik di Gang Baru pagi itu. Melingkar di pundak lehernya selendang bermotif tumbar pecah yang warnanya telah memudar. Sesekali selendang itu dikibas-kibaskan kearah leher untuk mencari angin. Meski rambut telah digelung, keringat itu tetap saja membuat sumuk.

Mereka kemudian bergerombol sambil menunggu calon pelanggan. Ada yang duduk selonjor tak sedikit yang berdiri. Ada pula yang memilih menghadang di bibir gang sambil berkelakar dengan pengemudi becak atau berkeliling. Sebuah usaha penuh harap.

Setiap hari, berteman selembar selendang dan sebuah tenggok bambu mereka bekerja sebagai buruh gendong. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan kekuatan, kesabaran dan keuletan. Daya juang seliat benang-benang tumbar pecah. Pelajaran penting bahwa rejeki bukanlah suatu hal yang datang begitu saja dari langit.

Gang Baru Semarang, 18 Mei 2008

Posted by rachma on Apr 28, '08 4:04 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Tak ada sejumput senyum di wajahnya. Matanya sibuk memandang peziarah yang lalu lalang. Dan terutama saya yang ternyata adalah satu-satunya perempuan tak bertudung kepala.

Kompleks Ampel Surabaya, 23 Februari 2008


http://www.flickr.com/photos/rachmasafitri/2451076472/

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help