Fitri's Site, monggo pinarak

Pawartos Alit

Posted by rachma on Jun 24, '08 2:24 AM for everyone

kesadaran adalah matahari

kesabaran adalah bumi

keberanian menjadi cakrawala

dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

 

Rendra 1989

 

ps: catatan kecil pada sebuah hari yang sulit


Posted by rachma on Jun 19, '08 12:18 AM for everyone

Selasa lalu, selepas pulang kantor berdua dengan Mbak Vivi kami melenggang ke Plaza Ambarrukmo. Ini adalah acara nonton film yang sempat tertunda dua kali. Setelah telpon ibu masing-masing, kami segera bergegas. Boleh dibilang, saya dan Vivi sama-sama dalam pengawasan orang tua. Sebuah perlakuan wajar bagi anak perempuan yang belum mentas.

 

Berdasarkan cerita dari beberapa kawan, kami terprovokasi untuk menonton suguhan film berjudul ’ps: i love you’. Selain karena ada Hillary Swank, saya lebih dulu terpikat dengan genre dramanya. Maklum, inilah memang salah satu sisi melankolis saya.

 

Film ini kaya dengan visual cantik New York dan Irlandia. Kota New York memikat secara fotografis karena apartemen bertingkat dengan batu bata bercat cokelat. Yang jelas, lorong-lorong dan lanscape kotanya seru untuk lokasi prewed dengan konsep kehangatan. Ya, sehangat berpuluh-puluh pasangan di bangku bioskop kemarin dan ucapan ps: i love you dari Gerry buat Holly.

 

pss: ini hanya catatan nggak penting hari ini, tp ini mungkin bisa jadi penting sepuluh tahun lagi


Posted by rachma on Jun 4, '08 6:12 AM for everyone

Tak lebih dari 5 menit kami bertemu. Terlalu singkat untuk seseorang yang mempesona saya. Ah, andai saja ada yang bisa mengulur waktu kala itu.


Posted by rachma on Jun 4, '08 4:12 AM for everyone

2 Bulan yang lalu, seorang kawan menunjukkan pada saya sebuah buku mungil yang konon sedang jadi buah bibir. Mata saya mendadak terbelalak dan merasa dejavu saat membaca beberapa artikel. Tulisan sahabat saya, Aria Dewangga untuk kanal kuliner www.trulyjogja.com tiba-tiba bermigrasi tanpa permisi. Saya hapal betul tulisannya, pemilihan kata-kata dan rangkaian kalimatnya karena saya ikut dalam peliputan tersebut. Ungkapan yang dipilih berdasarkan pengalaman saat kami antri makanan, ngobrol dengan sang penjual dan saat lidah mencicip rasa. Dua bola mata semakin keluar dibarengi omelan yang tak karuan saat lembar demi lembar itu terjelajah. Podo Plek, dan terutama untuk link-link berikut.

Rayuan Maut Sate Kambing Pak Nano : How Hot Are You?
Anti Fast Food ala Gudeg Wirobrajan
Senjata Rahasia Angkringan Pak Parjo


Omelan saya kembali membahana saat membaca biografi penulisnya. Tertulis bahwa para penulis telah bekerja sangat keras untuk buku ini. Sungguh, saya angkat topi buat penulisnya. Kerja keras dan keberanian terlampau besar untuk memindahkan tulisan kedalam buku yang saat ini sudah masuk cetakan ketiga.

Maaf, bila salah satu atau salah tiga dari penulisnya membaca tulisan saya yang penuh emosi ini. Pertanyaan saya cuma satu, bagaimana bila karya tulis anda dibajak orang tanpa permisi ?

Email dari kawan saya Ogi Pornawan (salah satu pemilik www.trulyjogja.com) kepada media-jogja@yahoogroups.com & www.jogjafoodfest.com

Teman-teman, saya pengen berbagi masalah plagiat buku.

Ada orang yang membuat buku dengan judul
100 warung makan enak di Jogja
Penulisnya: Wanda Djatmiko & M. Solahudin
berikut link nya:
100 warung makan enak di Jogja

Buku tersebut sudah naik cetak 3 kali, dan katanya menjadi best seller
di penerbit bersangkutan.

Secara tidak sengaja, saya menemukan hampir keseluruhan isi buku
tersebut mengambil dari website www.trulyjogja.com,
penulisnya hanya merangkum isi dari artikel-artikel di website tersebut.
Point-point dari tiap artikel jelas mengambil dari website tersebut,
dan beberapa kalimat malahan masih sama persis, bahkan beberapa judul
yang juga sama persis.

Kebetulan saya salah satu pemilik web tersebut, dan merasa sedih hasil
susah payah beberapa programmerku cuman di ambil begitu saja tanpa
satu patah kata ijinpun.
Dan bahkan, di cetakan ke tiga, website kami tidak disebutkan sama
sekali sebagai referensi (saya kurang tau di cetakan sebelumnya apakah
ada semacam daftar pustakanya atau tidak).

Dan saat saya hubungi penulisnya, penulisnya dengan enteng merasa
tidak bersalah, dan berlagak sangat-sangat sibuk, sehingga saya ajak
bertemu susah sekali.

Sebiasa inikah plagiatisme di negri ini?
mohon tanggapan dari temen-temen.

Posted by rachma on May 26, '08 4:50 AM for everyone

Sebuah Catatan Perjalanan Central Java Trip Hari I, Sabtu 17 Mei 2008

 

 

Hampir 2 bulan lalu, sebuah ajakan hunting mampir di Yahoo Messenger saya. Permulaan yang manis dengan setenggok pengalaman yang tak terbeli bersama Yoppy Pieter, Ina Hapsari dan Glend si Abang Warteg.

 

Pak Pri dan Panggilan Nduk

Hampir setengah jam telepon itu gagal tersambung. Setelah berhasil tiba-tiba saja terputus sebelum informasi penuh didapat tentang bus Joglosemar. Dan akhirnya pilihan pun jatuh ke Travel Rama Sakti. 40 ribu rupiah sampai ditempat. Berangkat pagi sampai sebelum Dhuzur. 

Kursi bagian depan tenyata kosong. Seorang penumpang batal berangkat sehingga saya pun space lebih untuk tas kamera. Sebuah awal perjalanan yang menyenangkan. “Mbak, santai aja duduknya, penumpang nomor 1 nya nggak ada,” ujar Pak Pri sang pengemudi travel.

Pria berperawakan gempal ini ramah dan menyenangkan. Satu hal yang saya suka adalah panggilan Nduk kepada saya kemudian. Ini terjadi setelah beliau tahu bahwa usia anaknya hanya terpaut sedikit dengan saya dan kami sama-sama anak tunggal. “Lha kowe ki neng Semarang ki meh ngopo je Nduk ?” tanyanya menyelidik.

“Lha kae Nduk koncomu wis ngenteni,” ujar Pak Pri saat mobil mendekati Wisma GKPRI di Jalan Ahmad Yani Semarang. “Iya pak,” jawab saya pendek. Padahal saya juga belum pernah bertemu muka dengan Yoppy maupun Glend. Tetapi yang jelas memang ada 2 laki-laki yang berdiri di depan pintu gerbang. Satu orang memang menyerupai Buddy Icon Yoppy di Yahoo Messenger. Maklum, ini memang kopdar perdana saya dengannya.

“Yoppy ya? Saya Fitri,” tanya saya disusul perkenalan sambil berjabat tangan. Setelah Pak Pri dan mobil berlalu kamipun segera naik ke lantai 2 wisma. Menunggu disana, sebuah kamar sederhana nomor 217 untuk menginap semalam dan seorang kawan baru bernama Mbak Ina. Paket kompit hari ini. Panggilan Nduk dan 3 orang kawan baru.

Saweran yang Membuat Aman, 11. 15 WIB

Tiba saatnya berbelanja kebutuhan pokok habis pakai para backpacker di Citraland Mall. Adalah air mineral yang botolnya mudah direfil, multivitamin dan buah segar pengganjal perut yang memang mudah sekali lapar.

Seorangpun telah ditunjuk sebagai bendahara mengelola uang saweran. Sebuah keberuntungan kedua karena selamat dari posisi yang berbahaya bagi seorang yang sangat sleder dan pelupa seperti saya. ”Mbak Ina aja ya yang pegang uang,” rayu saya sebelum posisi itu perpindah tangan.

Perjalanan backpacking memang lebih nyaman dengan sistem saweran. Setidaknya rasa khawatir kekurangan uang misalnya menjadi masalah bersama. Saweran mengamankan beberapa kebutuhan primer seperti konsumsi, transport dan akomodasi. Terlebih jumlah peserta yang hanya 4 adalah angka yang pas. ”Kalau rombongan apa bedanya sama piknik ya,” seloroh kami sambil terbahak.

Ramalan Jodoh di Sam Poo Kong & Berkah Pintu Merah, 14.10 WIB

Mruput. Jam pengunjung masih setengah jam lagi. Lebih baik mencari spot yang menarik dan menyeruput sebotol teh dingin sambil berbincang dengan satpam Klenteng. ”Sebentar lagi ya mbak, masih jam untuk sembayang,” katanya sambil menunjuk ke arah papan tulis persegi berisi pengumuman.

30 menit pun berlalu. Bergerak dan berkeliling.

Lalu sebungkus dupapun terbeli. Dua ribu rupiah, berbalut kertas minyak warna kuning dengan bau yang khas. 5 menit duduk dibangku kayu Rumah Juru Kemudi. Penasaran dan setengah tak sabar menanti Pak Haryadi yang akan meramal kami. Intinya adalah ramalan tentang kesehatan, rezeki, karir dan jodoh.

Pak Har menanyai kami dengan simultan. Dimulai dari nama, usia, pekerjaan, pacar dan keinginan. Jari tengah tangan kanannya seakan menulis jawaban di atas marmer meja persembahan. Lalu ia pun berbalik. Sekarang ia menghadap kedalam dan memulai ritual. Kaki kirinya disilangkan kebelakang dihentakkan ke lantai sebanyak 3 kali. Bersamaan dengan tepukan tangan pada bokor emas berkepala naga bercabang tiga tempat menancapkan dupa.

Lalu ia mulai mengocok toples kayu berisi puluhan bilah bambu bertuliskan nomor kertas ramalan. Terus dan terus hingga satu bilah bambu terpilih jatuh dan harus diambil. Bilah bambu terpilih kemudian diletakkan di bibir bokor. Tangan pak Har lalu meraih sinpwe yang kemudian dilemparkan ke udara. Bila sinpwe jatuh pada posisi terbuka dua-duanya, maka artinya dewa sedang menertawakan permohonan. Namun bila sinpe terbuka dan tertutup permintaan direstui. Tiba giliran saya, rupanya dewa sekali tertawa sebelum akhirnya merestui bilah bambu bernomor 31. ”Jangan terlalu emosi ya, sebentar lagi akan bertemu dengan seseorang,” ujarnya sambil menepuk bahu saya. Aha !

Sampai pada akhirnya kami menemukan sebuah pintu besar berwarna merah. Spot yang cantik untuk foto keluarga. Sebelum kami menumpang angkot jurusan Gedung Batu Johar, untuk mencari makan siang. Pilihan kami adalah Tahu Gimbal di daerah Depok. Sepiring Tahu Pong Emplek Telur seharga 13.500 rupiah mempu membuat kami ’ketahuan’, istilah yang saya pinjam dari mbak Ina. Maaf, saya lupa namanya warungnya, tapi yang jelas depot tahu gimbal yang kami kunjungi ini memiliki 2 lantai dan lantai keduanya berAC.

Maneqin-Maneqin Buntung Giauw Hien, 17.35 WIB

Awalnya saya hanya kagum pada jendela di sebuah rumah toko di Jalan Gajah Mada. Jendelanya berbentuk persegi dengan kaca patri yang terbuka keatas. Sejurus saya menghentikan langkah. “Berhenti sebentar ya, itu ada jendela lama,” pinta saya pada Yoppie, Ina dan Glend. Entah tiba-tiba mata saja tertuju pada etalase kaca dengan 4 buah boneka pajang, Bapak Ibu dan 2 anak.  Sebuah toko kuno yang membuat saya ingin melangkah masuk.

Awalnya kami ragu untuk masuk. Tetapi, rasa penasaran dan hasrat memotret jauh lebih tinggi ketimbang rasa ngeri. “Udah masuk aja, ketimbang penasaran,” ujar Yoppie. Saat kaki kanan melangkah masuk, kami serentak berucap salam. “Permisi..” Pada saat itu pula 4 mannequin menatap lekat-lekat bersamaan dengan dengan datangnya sang empunya Toko, Cik Ana Santosa.

Beruntung, Cik Ana menyambut ramah. ”Ini wae, apik lho cocok mbek badanne situ,” ujarnya berpromosi sambil menyodorkan sebuah kemeja motif sulur pakis. Padahal mata saya justru sibuk melihat sekeliling toko yang menurut saya sangat orisinil. Serasa terlempar pada era 70an.

Semakin ke dalam dan kami pun segera menjelajah. Baju-baju yang dijual ditata dengan ala kadarnya. Bertumpuk pada meja kaca kayu jati yang berdebu tebal. Kami tatap lagi maneqin-maneqin itu. Tampak semakin menyeramkan setelah sadar bahwa anggota badan maneqin tersebut sudah tidak lengkap. Buntung di tangan, kaki, badan dan kepala. Belum lagi melonggok kamar pasnya. Kecil, tanpa lampu dengan cermin berjamur. “Ini beneran toko bukan sih ?” tanya kami dalam hati.

Berbagi Es Krim di Oen, 19.20 WIB

5 menit berlalu menyusur jalan Gajah Mada menuju Es Krim Oen di kawasan Sri Ratu. Sepanjang jalan kami masih saja membicarakan kemisteriusan Giauw Hien sambil menenteng tas kresek berisi 5 potong baju baru nan berdebu. ”Nanti dari Oen kita balik lagi aja ke Giauw, ben nggak penasaran,” usul saya tiba-tiba.

Setibannya di Oen, tanpa perlu dikomando masing-masing dari kami memilih menu ice cream yang berbeda. Ada Oen Special, Rum Raisin dan 2 rasa lain yang kemasannya sangatlah menawan. 4 sendok pun bersilangan dan berbuntut gumaman. ” Leker !”

Night Trip Lawang Sewu, 20.30 WIB

Urung ke Kota Lama kami beringsut ke Lawang Sewu. Meski sebelumnya kami menghabisakan hampir setengah jam sendiri untuk bernegosiasi. Gedung tua ini sempat membuat kami maju mundur antara takut dan berani.

Guide perjalanan malam kami bernama Pak Agus. Pria berusia sekitar 40an ini sudah kami sumpah untuk tidak menceritakan hal yang menakutkan saat didalam. Beliau baru boleh bercerita saat tur usai. ”Pak, nanti ceritanya kalau sudah diluar saja ya pak, ampun teng lebet,” pinta saya dengan wajah memelas.

Dan disini pula saya membuktikan hitungan tentang kisi jendela & pintu peninggalan Belanda. Ilmu yang saya dapat dari Mas Yoan. Jumlah kisinya tepat berjumlah 26. ”Oh gitu to mbak, saya malah nggak tahu,” kata Pak Agus sambil mangut-manggut.

Bersambung...


Posted by rachma on May 2, '08 7:15 AM for everyone

Seorang pria datang dari arah timur, menyeberang perempatan Tukangan dari Jalan Bung Tarjo bakda magrib tadi malam. Tangan kirinya menggenggam erat gitar warna coklat muda menenggelamkan tubuhnya yang mungil. Jalannya sedikit gontai, mungkin ia kelelahan. Ada 2 tas yang dibawanya. Satu tas gitar berwarna biru tua dan tas kecil diselempang ke kiri berlawanan arah dengan gitar.

 

Awalnya ia tampak ragu-ragu menyeberang. Langkahnya kaki sempat mundur sekali. Gojak-gajek. Akhirnya kakinya melenggang menuju depan SD Tukangan yang berdinding mural. Pandangannya lurus, cenderung menunduk. Hanya sekali ia menoleh kearah deretan kuda besi dengan kilatan lampu yang sudah pasti menjadikannya bak aktor di sebuah panggung teater.   

 

Meski hanya membaca gerak bibirnya, saya tahu bahwa iya bertanya arah Malioboro kepada 2 bapak penarik becak yang sedang menunggu penumpang. Jarak kami terpaut 5 meter, tak lebih. Motor saya ada di barisan terdepan dekat zebra cross. Maklum, saya gagal ngebut mengejar lampu bangjo.

 

Ia sangat santun. Badannya membungkuk sambil kedua tangannya ditelangkupkan menjadi satu didepan dada. Gitar dibiarkan menggantung sesaat. “Badhe tanglet, menawi Malioboro niku arah pundi ?“ tanyanya. Punggungnya kembali membungkuk dan kedua tangannya kembali bersatu saat ia beroleh jawaban. Lampu jalan masih mengijinkan saya melihat senyumnya yang terkembang.

 

Langkahnya seperti dipercepat menuju Malioboro. Tempat yang mungkin akan menjadi rumahnya untuk beberapa hari. Rumah yang akan diisi dengan petikan gitar, senandungnya dan kesantunannya. Selamat berjuang kawan !

 

 

Prapatan Tukangan, 01 Mei 2008


Posted by rachma on Apr 22, '08 1:26 AM for everyone

Hari ini saya tampil agak berbeda. Menurut orang rumah dan kantor, perbedaan yang mencolok adalah warna baju, bentuk rambut dan model sepatu. Batik Pekalongan bermotif capung berwarna kuning gading disulap oleh ibu semalam. Beliau nglembur untuk sepotong baju buat saya. Sedangkan rambutnya diurai setelah hampir setiap hari diikat  ekor kuda. Maklum, sisir mobile hilang entah kemana dan belum sempet beli lagi. Sepatu teplek tanpa hak berwarna senada menggantikan tugas sneakers kesayangan untuk sehari ini. Tapi, satu hal yang tetap sama adalah celana jeansnya. "Lha nak ngono, sakjane ki yo ayu," puji ibu saat saya berpamitan.

 

Setidaknya ini kado buat bapak yang ulang tahun hari ini. Kemarin malam, beliau sempet protes perihal anaknya yang menurutnya pada fase terparah. "Kuwi lho delokken nang foto, diopeni to Nduk," ujarnya saat tak sengaja melihat foto diri yang terselip difoto-foto Solo Batik Carnival. "Itu fotonya bar hunting seharian, pas keringetan dan kepanasan," bela saya sambil menutup file.

 

Bapakku, selamat ulang tahun ya ..

 


Posted by rachma on Apr 14, '08 6:04 AM for everyone

ayo tuku kluwih..kluwih dinggo njangan

ayo podo mulih..mangan nak enak’an

 

ps:

Tiba-tiba teringat tembang dolanan anak yang dilagukan ibu kemarin petang. Segera ingin cepat pulang dan nggak mampir kemana-mana. Hari ini terlalu melelahkan. Saatnya menyergap meja makan dengan sedikit membabi buta.


Posted by rachma on Apr 10, '08 5:18 AM for everyone

Masuk pelataran Magangan, suasana senyap. Mesin motor pun segera dimatikan. Terdengar samar lagu campursari saat kaki mulai melangkah masuk. Beradu dengan suara rantai motor Mas Tian, kakak sepupu saya  yang bergesek seperti kurang oli.

 

"Nyuwun sewu, dalem badhe pinanggih Pak Yudoraharjo," ucap saya seketika berjumpa dengan para abdi yang sedang jagongan di depan pintu belakang kraton. Orang yang saya cari ternyata ada diantara mereka. Sedikit manglingi karena sedang tidak memakai blangkon. Segera foto-foto itu pun berpindah tangan. Wajahnya tampak sumringah. "Saestu mbak, meniko kagem kulo?" tanyanya berulang-ulang sambil mendekap foto berbingkai itu.

 

Malam kemarin, Selasa Legi (08/04/08) adalah caos pertama para abdi di Magangan. Artinya adalah tugas jaga untuk kelompok pertama. Ada 10 kelompok berdasarkan hari pasaran. Pak Yudoraharjo adalah salah satu abdi yang caos setiap pasaran Legi. Selain sebagai abdi dalem, Pak Yudoraharjo yang bergelar Mas Wedana ini juga bekerja sebagai juru kunci Makam Karanglo.

 

Semula kami tidak akan berlama-lama. Tapi rencana tinggal rencana. Kami tak mampu menolak teh manis suguhan mereka. "Ampun keseso, monggo lho dipun unjuk," pinta mereka berbarengan sambil jempolnya menunjuk ke arah gelas diatas tikar. Dan obrolan pun bergulir kemudian.Gayeng dan sedikit njlimet karena dalam bahasa jawa krama inggil. Cerita tentang banyak hal seperti cerita tentang abdi dalem Polowijo dan Semutgatel. 

 

Selain Pak Yudoraharjo ada 4 abdi dalem lainnya. Kesemuanya memiliki nama depan Yudo. Mereka adalah pak Yudopradoto, Yudosaronto, Yudodinomo dan Yudosarono. Nama yang terakhir adalah milik seorang abdi dalem yang kemarin satu-satunya tidak memakai surjan. "Menawi kulo menika nglerek," ucapnya sambil bersalaman menjawab raut muka saya yang tampak binggung dengan kostumnya. Nglerek artinya adalah beliau datang satu malam lebih awal sebelum hari tugasnya berjaga. Nglerek kebanyakan dilakukan para abdi yang tempat tinggalnya jauh.

 

Saya sempat tercengang setelah tahu bahwa Pak Yudosarono ini berasal dari desa Kranggan Temanggung Jawa Tengah. Lebih tercengang lagi saat tahu bahwa beliau bersepeda pulang pergi setiap caos ke kraton. "75 kilo mbak, kirang langkung 12 jam dhateng margi," jelasnya kemudian. Artinya beliau menghabiskan setengah harinya waktu dijalan untuk menempuh perjalanan sepanjang 75 kilometer. "Sampun telas sarono 3 onthel mbak," candanya. Nama Yudosarono memang cocok buat si bapak. Beliau baru saja menjelaskan bahwa sejauh ini beliau sudah menghabiskan 3 buah sepeda.

 

Malam semakin larut dan diskusi semakin berkembang. Bersama mereka seperti sedang mengikuti pelajaran sejarah. Bedanya dengan disekolah, gurunya tak hanya satu. Semakin malam teh manisnya pun berkawan setelah datangnya Pak Mujiyono yang membawa sekardus bakpia. Beliau adalah abdi dalem yang masih magang di kraton. Belum dilantik sehingga belum berhak menyandang nama depan Yudo seperti kelima abdi yang lain. Selain Pak Mujiyono, ada seorang abdi magang lain yakni Pak Parjono. Ia masih tampak malu-malu untuk urun suara.

 

Saatnya saya pamitan. Sudah hampir 3 jam kami berbincang. Jagongan ditutup dengan foto bersama para abdi. "Mbake mboten dherek ?" tanya mereka meminta saya ikut berfoto. Permintaan itupun langsung saya tolak dengan halus, takut merusak keindahan foto. Dan sepuluh hari lagi saya akan kembali dengan foto keluarga dan sekeranjang pertanyaan. Magang sejarah. Jangan kapok ya Bapak-bapak..

 

PS: terimakasih sekali buat masopang yang bersedia mempostingkan tulisan. Semoga tabah ya..


Posted by rachma on Apr 4, '08 3:35 AM for everyone

Saya                              : Selamat malam, maaf mas, apa tadi menelpon saya?

Lelaki diujung telepon    : Iya, selamat malam Ibu Rachma

Saya                              : Maaf, ini siapa ya?

Lelaki diujung telepon    : Saya Alex

Saya                              : Alex siapa ya mas?

(Sambil terus berpikir. Alex yang saya kenal tidak semerdu ini suaranya)

Lelaki diujung telepon    : Ibu lupa ya?

Saya                              : Duh, meski daya ingat saya melemah akhir-akhir ini, tp saya yakin ini Tomi. Bukan Alex.

 

 

Dan lelaki diujung teleponpun terbahak. Setidaknya ia sudah sempat menang dengan membuat saya kebingungan sesaat. Maklum, beberapa minggu terakhir saya lebih sering menonaktifkan dering dan getar pada hp. Jadi sudah pasti beberapa telepon dan sms sempat terlewat dan terlambat di baca.

 

Namanya Tomi, kakak angkatan saya di Atmajaya yang baru saja selesai Yudisium. Terakhir bertemu dengannya pada malam kesebelas Ramadhan lalu. Sekarang kami jarang bersua semenjak ia merantau ke Jakarta. Senang rasanya mendengarnya bercerita lagi. Tentang cita-cita yang sejak dulu dirintisnya. Tentang pekerjaannya sekarang sebagai seorang penyiar radio di sebuah radio ternama. Tentang Jogja dan Jakarta.

 

Kami pun berbagi waktu.  Dan tiba giliran saya bercerita, dia segera mendahului dengan kalimat ajaibnya. “Sudah Nduk, aku sudah baca semuanya.. tentang Surabaya, tentang Fara dan tentang recehan dari Sri Sultan,” ujarnya panjang. Ah, rupanya ada juga ya pembaca setia blog saya.. Pada sederet tulisan yang penuh dengan kutipan dan pembelaan diri.


Posted by rachma on Mar 31, '08 10:39 PM for everyone

Akhir minggu kemarin saya benar-benar menjadi anak rumahan. Ngampet pergi ke pesisir selatan dan batal plesir ke kaliurang. Saya kedapuk jaga warung, pasar ke Giwangan dan masak. Meski tetap disambi mengerjakan setumpuk dokumen berlabel ”asap”.

 

Untung bala bantuan segera datang. Setidaknya pembeli nggak perlu menunggu terlalu lama untuk tahu harga makanannya. Membuat saya tampak bodoh didepan mereka karena tak hapal harga. Maklum, selain karena jarang ada di garda depan, kenaikan harga membuat pergerakan yang fluktuatif di beberapa menu warung. 

 

Hari kemarin pula saya menjadi galak. Terpaksa galak lebih tepatnya. Ibu harus dipaksa untuk mau periksa di Bethesda, rumah sakit tak jauh dari rumah. Sejak Jumat (28/03/08) lalu stamina beliau menurun. Sekujur kaki bertato salonpas. Setidaknya ada 3 salonpas saat beliau menunggu saya yang pulang terlambat di lincak depan. ”Rapopo kok, mung mumet,” begitu jelasnya sambil berusaha tersenyum.

 

Lagi-lagi saya memaksa ibu untuk periksa kedua kalinya karena tubuh beliau kembali mengigil. ”Emoh, aku wedi,” ujarnya pendek. Tapi kali ini saya berhasil. Meski saya harus berjanji tidak menuruti kata dokter untuk opname. Ah, Ibu..ternyata dirimu sama bandelnya denganku.


Posted by rachma on Mar 31, '08 1:13 AM for everyone

Ambulans bernomor polisi AB 7179 WH itu perlahan menjauh. Sirinenya meraung, berlomba dengan tangis yang pecah dari para takziah. Mobil putih itu membawa Fara, mengantarnya ke Ungaran Semarang. Di ambulan, Eyang putri Fara menemani cucu ke 18nya ini. ”Aku melu ambulan, tak ngancani Fara”, pintanya. Irva dan Iwan, kedua orang tua Fara ikut mobil pengiring tepat dibelakang ambulan. Tangis masih terus mengalir.

 

Eyang putri Fara, ibunda Mas Iwan tampak tambah menunggu jenasah Fara. Sesekali air matanya meleleh saat datang pelayat mengucap doa. Kamis lalu, Fara memberikan firasat kepada neneknya ketika minta dimiringkan posisi tidurnya. ”Yang, cepet miringnya, Fara akan pergi”, pinta Fara. ”Sebentar, eyang nggak kuat, adik mau pergi kemana?” tanya eyang kemudian. ”Fara akan pergi jauh”, ucap gadis ini menghenyakkan sang nenek.

 

Dan dini hari tadi, sms duka ini mengabarkan gadis cilik ini meninggal dunia. Ah, sepertinya baru kemarin Fara merajuk minta permen. Dan baru nanti siang saya berencana menjenguk lagi, membawa permen susu buat dia. Namum Tuhan berkehendak lain. Dia yang akan menyediakan setoples permen buat Fara.

 

 

Selamat Jalan Fara..

http://rachmasafitri.multiply.com/photos/album/89/Selamat_Jalan_Fara

 

berita di Kompas Cetak

http://kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.02.09261012&channel=2&mn=167&idx=167


Posted by rachma on Mar 25, '08 8:21 PM for everyone

 

Penderitaan Fara (Fara Nafisa Sahra) bermula dari penyakit usus buntu pada tanggal 6 October 2007. Tepat sebulan setelah gadis lincah ini berulang tahun. Setidaknya telah dilakukan 3 kali operasi dan puluhan kali pemasangan kantong pembuangan kotoran di perut Fara. 6 bulan sudah Fara terbaring dan dirawat dengan penyakit Post Laparotomi Exsplorasi Gizi buruk tipe marasmik,Burst Abdomen, Anemia Normositik Nomokramil dan Sepsis (infeksi sekunder).  Waktu yang cepat bagi penyakit sekaligus rentang sangat panjang bagi Fara dan orang tuanya untuk berjuang demi kesembuhan.

 

Ketika Fara Minta Permen

 

“Tante, minta permen tante ?” rengek Fara sedikit berteriak. ”Permen Tante, ambilin disitu Tante,” ucapnya lagi. Suaranya lantang dibalik badannya yang semakin kurus. Berat badan Fara sekarang hanya 7 kilo, turun 6 ons dari berat seminggu lalu.

 

Sabtu kemarin (22/03/08) kondisi Fara sedikit memburuk. Luka mengangga di perutnya mengalami pendarahan. Ini karena jumlah trombositnya hanya 1000, jauh dari angka normal 150.000. Ketika menyingkap selimut khususnya, pampersnya penuh darah. Setidaknya ada lima terminal selang di tubuh kecil Fara. Transfusi darah dan aneka cairan untuk memacu kestabilan tubuhnya menemani tabung oksigen dan penghangat badan.

 

”Nanti Tante beliin permen, tapi bibirnya jangan digigit ya Nduk!” ucap kami serentak. Bibir mungil itu sekarang seperti sedang bergincu. Fara memang gemar menggigit bibir hingga sampai berdarah. Maklum, kulitnya sekarang sensitif, mudah sekali terluka karena sel darah putih ditubuhnya jauh berkurang.

 

Mbak Dwi, teman ibunda Fara yang menjaga gadis mungil ini sore itu. Ia tampak sabar menjawab permintaan Fara akan permen, minum dan memiringkan tubuhnya. Ada dua shift yang bergantian menjaga Fara setiap harinya selain orang tua Fara, Mbak Irva dan Mas Iwan.

 

”Fara, Tantenya pulang dulu ya,” ucap saya memandang mata Fara yang semakin cekung. Komplikasi penyakit membuat gadis berusia 3,5 tahun ini terlihat sayu. Pipinya yang dulu temben berubah menjadi tirus. ”Besok Tante kesini lagi bawa permen, tapi Fara janji ya jangan gigit bibir lagi,” ujar saya sambil melambai dan berjalan menjauh. ”Permen..,” terdengar lagi di lorong ruang PICU Sardjito saat kami melepas jubah berwarna merah jambu. Teriakannya semakin nyaring.

 

Keikhlasan Sang Bunda dan Perjuangan Keluarga

 

Menyambangi rumahnya setelah dari rumah sakit, Mbak Irva menyambut kami dengan hangat. Tapi saya tak berjumpa dengan bapak Fara. Mas Iwan sedang pergi ke rumah sakit mengurus transfusi darah. Kami tlisipan.

 

Lega rasanya melihatnya tersenyum. Senyum untuk kesembuhan Fara. 6 bulan terakhir adalah waktu panjang yang penuh airmata. Tapi bulan terakhir ini tangis itu coba ditahan. ”Fara itu perasa, kalau saya sedang marah atau sedih raut mukanya pasti langsung berubah”, cerita wanita asal Semarang ini.

 

”Dulu saya sering menyesal karena kehilangan masa kecil Fara, tapi sekarang saya sudah ikhlas,” ucap Mbak Irva pelan. Irva tidak lagi ngotot atas kesembuhan yang cepat bagi putri sulungnya ini. ”Beberapa bulan lalu kondisinya stabil, panas tubuhnya misalnya, jadi saya sangat yakin Fara bisa pulih segera,” ucapnya sambil sesekali menyandarkan kepalanya di meja.

 

”Terus terang melihat kondisi Fara sekarang saya masih tak kuasa menangis,” jelas Irva. Setengah tahun ini memberinya pelajaran untuk belajar ikhlas dan berserah kepada Tuhan. ”Saat Fara koma, kami bergantian membaca Yasin dan surat-surat pendek ditelinganya,” ucapnya kemudian.

 

Sampai hari kemarin, total terkumpul dana hampir 400 juta untuk kesembuhan Fara. Separuhnya telah digunakan untuk melunasi biaya operasi, rumah sakit dan obat-obatan. Dana yang belum dipakai akan digunakan untuk melunasi biaya rumah sakit terakhir dan pengobatan Fara kedepan. Menurut perhitungan saya melihat kondisi Fara, dana tersebut masih kurang untuk kesembuhan menyeluruh Fara. ”Kami terimakasih sekali dan kami akan tetap berusaha bekerja dan berjuang untuk Fara, bagaimanapun ini beban,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Nama Baru Fara; Sebuah Doa Kesembuhan

 

Sekarang Fara berubah nama. Fara Nafisha Sahra diganti menjadi Fara Bagas Renata yang artinya ”gadis yang terlahir kembali sehat dan ceria”.  Eyang kakung Fara yang mengurus akta perubahan namanyanya di Semarang, tempat gadis cilik ini dilahirkan pada 7 Sepetember 2004.

 

Di Jawa memang ada kepercayaan tentang pergantian nama bila terjadi sakit atau kondisi lain yang tidak diharapkan. Beberapa mengistilahkan ”kabotan jeneng” atau nama yang diberikan tidak tepat atau terlalu berat untuk si anak. Setelah berganti nama, semoga anak tersebut mendapat berkah dari arti nama tersebut. Begitupula Fara. ”Semoga saja nama baru ini jadi doa kesembuhan Fara,” ucap Irva penuh harap. Amien.

 

 

Selasa Malam 25/03/08, sepulang dari Sardjito dan Pakuningratan bersama Sisca Nasastra Gafri. ”Cepat sembuh ya Nduk, nanti tak boncengke beli permen yang banyak”.

 

 

PS:

 

Buat kawan-kawan yang bersimpati pada Fara baik dengan doa, saran ataupun dukungan finansial, bisa menghubungi saya lewat jalur pibadi, email dan telepon (rachma.safitri@gmail.com & 0818465717). Apapun bantuan kawan-kawan akan kami sampaikan langsung pada Mbak Irva dan Mas Iwan (orangtua Fara). Bantuan doa kawan-kawan sangat dibutuhkan untuk kesembuhan Fara Bagas Renata. Melihatnya kembali ceria, seperti arti namanya, Fara.

 

 Update ttg Fara : http://siscagafri.multiply.com/journal/item/5/a_hope_for_Fara_-_Update3_2232008


Posted by rachma on Mar 16, '08 11:28 PM for everyone

Setelah rampung menyambangi pameran foto di Darmokali, langkah pun berlanjut ke Tahu Tek Pak Ali di daerah Dinoyo. Sambil menikmati tahu berbalut telur dengan bumbu petis kami berdiskusi tentang Lumpur Lapindo. Sayang, saya tak sempat kesana dihari kedua maupun ketiga. Pengalaman pergi ke desa Besuki menumpang Bisonpun tertunda untuk beberapa saat. Tetapi, hari inipun tetap bisa berwarna. Berbekal peta melintas kota.

 

Anak Perempuan Dadakan

 

Dihari kedua, saya bermalam di rumah Lilies di daerah Manukan. Butuh setidaknya 30 menit menembus malam yang semakin gelap dengan kecepatan tinggi. “Fit, disini lebih aman ngebut,” anjur Lilies sambil menyalip motor.

 

Bune, anakke wedok tambah siji ki,” sapa Bapak Lilies saat kami datang. “Kok sampai malem to ? ” tanyanya kemudian. Bertemu dengan Keluarga Irnanto membuat saya ingat dengan bapak dan ibu saya. Mereka setipe. Selalu dekat dengan telepon, membiarkan pintu terbuka dan tak henti mengirimkan pesan singkat dengan kalimat : “ojo bengi-bengi baline”. Mungkin ini kami  adalah anak tunggal. Cuma kebalikannya yang sering khawatir adalah Bapaknya Lilies. Bedanya, justru ibu saya yang sering cemas.

 

Pagi ini rumah sudah regeng. Ramai karena celotehan 2 anak perempuan dadakan. Tari dan saya. Bertiga pun segera berbagi tugas di dapur. Lilies yang mengupas, Tari yang mencuci dan saya kebagian mbumboni. Menu kami pagi ini adalah lele, tempe dan terong penyet sambel. Dan sudah pasti kami tanduk berulang kali. Entah karena tempene kasinen, kepedesen sambel atau turah lawuh, jadi selalu nambah nasi. Sebuah pembelaan yang logis.

 

Pucat Pasi di Zangrandi

 

Hari beranjak siang. Saatnya meluncur ke arah kota, melanjutkan agenda yang belum sempat terlaksana. Setelah mengantar Tari ke kantornya, saya segera bergegas menuju kos untuk mandi dan packing. Sesuai rencana semula ini adalah hari terakhir saya di Surabaya. Jadi, hari ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

 

Melalui tiga sms dengan Mas Doni (beliau adalah teman Flickr saya), saya pun berkencan dengan istrinya, Mbak Eka (yang kebetulan teman MP saya). Jadwalnya lumayan padat yang harus rampung antara jam 10.00 s/d 16.00 WIB. Kami akan beli tiket ke Gubeng, berkeliling kota, makan es krim di Zangrandi, mengintip Cheng Ho dan ke daerah Genteng Kali.

 

Zangrandi adalah sesi paling seru di edisi kali ini. Bukan hanya karena Avocado Flodge atau Tuti Fruti ice creamnya. Tapi karena sapa ’hangat’ yang tak terlupakan dari bapak Parkirnya. 10 menit terasa lama hanya untuk mencari tempat parkir motor yang benar menurut si bapak. Hingga pihak ketiga pun datang membela. Tetap saja kata-katanya tajam tak beralasan. Hingga badan ini pucat pasi dan memilih diam. ”Mungkin Bapak ini sedang ada masalah dirumah,” duga saya dalam hati menentramkan diri.

 

Benar adanya bahwa kata maaf itu mujarab. Meski saya yakin seyakin-yakinnya saya tidak salah parkir. Tempat parkir yang jelas dan berada di halaman Zangrandi. ”Ya sudah pak, saya minta maaf kalau saya salah, saya cuma ingin makan ice cream disini,” ucap saya padanya. ”Sekarang saya boleh parkir dimana ? ”tanya saya kemudian.

 

Untung ice creamnya tak mengecewakan. Paling tidak bisa menetralisir hati yang masih ndredeg. Untung pula ada mbak Eka. ”Nanti disenyumin aja Fit, mungkin aja lagi ribut sama istrinya dan kamu yang ketiban sial, ” sarannya menyejukkan.

 

Siola dan Putaran Ganjil

 

Setelah sukses menemukan masjid Chengho dengan petunjuk peta, kami pun segera berkeliling kota. Mbak Eka (meski sudah hampir setahun tinggal di Surabaya), selalu siap membuka peta lalu berkata belok kanan dan kiri memberi aba-aba. Kami berdua mirip Dora the Explorer dengan peta dan tas ransel. Ketika peta tak jua memberi jawaban, kami bergegas berhenti lalu bertanya.

 

Kami sempat puyeng ketika mencari Taman Cak Durasim dan daerah Genteng Kali. 3 kali kami mengitari Siola. “Tenang mbak Eka, itunganne pancen kudu ganjil,” ucap saya sembari menenangkannya yang berubah menjadi sedikit panik.

 

Suara Surabaya dan Gempa Yogya

 

Terhenti 3 kali bertanya, akhirnya sampai juga kami ke Kampong Media di Bukit Wonokitri. Pak Errol meminta kami singgah dulu di kantor ini sebelum meluncur ke rumah beliau di Citraraya. ”Nanti kamu ke SS dulu ya,” pintanya diujung telepon.

 

Beliau mengajak saya berkeliling Suara Surabaya Media. Pertama kami menuju ruang Studio Radio SS FM. ”Teman-teman, ini saya membawa kawan-kawan dari Jogja,” ujar pak Errol pada 5 orang wanita didalam ruang kendali siar. ”Dulu siapa yang tugas ketika gempa? ” tanyanya kemudian. Semuanya tersenyum. ”Nah, kenalkan ini Fitri,  yang sering kita telpon tengah malam,” ujar beliau sambil tersenyum.

 

Rupanya Pak Errol sengaja ingin mengenalkan saya pada kru SS. Terutama penyiar, gatekeeper dan reporter yang dulu berhubungan langsung meski hanya melalui saluran telepon. 2 Jam setelah  gempa Yogya, SS melalui Pak Errol meminta saya untuk membantu informasi dengan melakukan live report ke SS FM dan suplai berita ke SS Net.

 

Ketika itu menjadi kali pertama saya siaran langsung berita hardnews untuk ukuran radio diluar Jogja. Selama seminggu saya standby on phone dan berkeliling setiap rumah sakit dan wilayah gempa baik Bantul maupun Klaten. Sebelum openmike, saya akan terhubung dengan gatekeeper terlebih dahulu. Jarak 2 menit setelahnya baru benar-benar berhadapan suara dengan sang penyiar. Penyiar akan membuka dengan opening sebagai berikut : ”Pendengar, sekarang kita sudah tersambung dengan Fitri, reporter trulyjogja.com yang akan mengupdate kondisi terakhir di Bantul. Silahkan Fitri .” Upps..cukup sekian kilas baliknya. Kamipun segera melangkahkan kaki ke ruang redaksi SS Net, Surabaya City Guide dan Giga FM.  Ramah meski hanya sempat berbincang sesaat.

 

Belajar Menyumpit Belajar

 

Menuju Citraraya, Singaporean Citynya, saya terpana. Perkembangan Surabaya Barat ini memang 3 kali lebih pesat dari pada wilayah Surabaya yang lain. Obrolan selama perjalanan bergulir lancar hingga tak sadar telah sampai di rumah beliau. Ibu Nunung, istri Pak Errol menyambut dengan wajah sumringah. “Welcome to the Jonathan’s house Fit,” sapanya ramah.

 

Dirumah yang asri bernuansa etnis ini saya menginap semalam. Tambah satu malam dari rencana awal. Sesuai saran Bu Nunung, saya pulang dengan sancaka pagi. Perjalanan malam memang tak mungkin dilakukan karena lokasinya jauh baik mana-mana. Baik dari Bandara maupun terminal.

 

Sebelum makan malam, kami menikmati slide show foto-foto perjalanan keluarga Jonathan di Perth dan Eropa. Dokumentasi sarat cerita yang dituturkan runtut dan informatif oleh Bu Nunung. ”Ini sengaja sebagai inspirasi buat Iman yang crigis kalau siaran,” jelas beliau menoleh pak Mas Iman, seorang penyiar senior SS FM yang juga tamu malam itu.

 

Menu Yakiniku menutup malam saya di Surabaya. “Fit, ayo latihan pake sumpit ya,” canda bu Nunung di meja makan. Maklum, kebiasaan makan dengan tangan masih menjadi jawara. Susahnya minta ampun, padahal saya sudah membayangkan berada di Jepang berbaju kimono. Mungkin imajinasi yang tinggi bisa membantu melancarkan proses belajar ini. Namun tetap saja belum berhasil dan sampai detik ini sumpit masih belum bersahabat dengan si jemari.

 

 

Glosary:

 

Bune, anakke wedok tambah siji ki,”                            : Bu, Anak peremp. kita tambah 1

ojo bengi-bengi baline                                                : Jangan pulang terlalu malam

regeng                                                                          : ramai

tempene kasinen,                                                          : tempe yang terlalu asin

kepedesen sambel                                                         : sambel yang tertalu pedas

turah lawuh                                                                   : sisa lauk

ndredeg                                                                        : gemetar

Tenang mbak Eka, itunganne pancen kudu ganjil,”        : hitungannya harus selalu ganjil

crigis                                                                            : cerewet

 

Fitri goes to Surabaya support by:

  1. Kristina Rahayu Lestari dan kamar kosnya di Gubeng Airlangga
  2. Lilies Rolina Irnanto dan keluarga di Manukan
  3. J. Totok Sumarno, my online Surabaya city guide (suwun atas Tahu Teknya dan petunjuk lokasinya ya)
  4. Mbak Eka dan Mas Doni, terimakasih banyak ya...(kardus Ny. Beek nya laris manis)
  5. Pak Errol Jonathan dan Ibu Nunung (lain waktu saya sowan lagi J)
  6. Iip, calon dokter hewan yang menyenangkan.

Posted by rachma on Mar 13, '08 7:14 AM for everyone

menjaga diri untuk berbakti

mengurai diri untuk berbagi

bersabar diri untuk menanti ...

 

ps: kursus sabar jilid dua

 


Posted by rachma on Mar 2, '08 7:50 PM for everyone

Surabaya.. dari dulu saya ingin ke sana. Mengunjungi Tari dan Lilies, survey lokasi untuk magang dan memenuhi undangan keluarga Jonathan. Dan kebetulan pas ada pameran fotografi ttg masyarakat Samin di CCCL Surabaya. Alasan untuk ijin dengan ibu komandan pun tambah kuat.

 

Cerita di atas Sancaka

 

Hari senin kemarin terasa sangat cepat. Untung beberapa deadline pekerjaan sudah lenyap dari antrian ”to do list” saya. Meski sedikit tergesa, sepeda motorpun bergerak dari kantor menuju rumah. Pesan pendek dari ibu mengingatkan saya bahwa saya nggak boleh ketinggalan kereta. ”Kok yo tetep aja kesusu ya, meski cuman kerja setengah hari,” guman saya dalam hati.

 

Pamit. Untung tadi pagi, sebelum berangkat kerja, sudah nyicil pamit ke sarean bu Ni dan rumah simbah Hadi. Semuanya memang harus dipamiti. Dari Simbah, Budhe dan sampai sepupu-sepupu kecil.

 

Sesampainya di stasiun Tugu, panggilan bagi penumpang Sancaka telah berulang untuk kali ketiga. Diantar bapak, saya naik mencari kursi. Gerbong 2 nomor 3A. Sementara ibu hanya mengawasi dari seberang jendela. ”Nyuwun titip nggih mbak,” ujar Bapak pada seorang ibu yang duduk di kursi 3B. Itulah bapak. Selalu menitipkan saya disetiap perjalanan.

 

Melepas pandang ke luar jendela, kereta perlahan mulai menjauh dari Yogya. Dan kamipun segera berbincang. Saya memang paling tidak betah bila hanya anteng-antengan. Namanya mbak Ika, perawakannya kecil dengan balutan sepatu sneakers dan jaket semi corduray. Trendy diusianya yang tak lagi muda.